Total Tayangan Halaman

Selasa, 21 Februari 2012

Gadis Kecil Itu Bernama Siti...

Ini di share dr notes Nurul Hidayah Azmi di fb, selamat membaca.........


Namanya adalah Siti, seorang gadis kecil yang cantik karena memiliki mata dan dagu yang sangat indah. Aku bertemu dengannya tepat pada hari Selasa,7 Februari 2012  sore tadi, disebuah rumah makan lesehan yang terletak di kawasan Dr. Mansyur, Medan. Iseng saja aku dan seorang teman pergi kesana untuk cari-cari makanan mengisi sore yang cerah.

Tak berapa lama kami duduk , lalu datanglah awalnya seorang anak kecil laki-laki yang berpakaian kumal, “ Kak...minta seribunya kak...”. Melihatnya lalu temanku memberikan uang ribuan kepada anak itu. Selang beberapa menit kemudian datang lagi seorang anak laki-laki sekitar umur 7 tahun mendekat sambil menjajakan koran, tapi aku bilang dengan baik-baik bahwa kami tak ingin membeli koran, namun dia tetap keukeuh dengan tawarannya “Kak beli korannya kenapa lah kak, kalo nggak mintak seribu ajalah kak...”. Begitu terus hampir 5 menit dia meminta dan meminta. Aku kasihan tapi kalau yang ini pun ku beri maka aku yakin mereka akan datang lagi dan datang lagi secara bergantian. Akhirnya aku dan teman yang ada di sampingku mendiamkannya saja sampai dia pergi sambil menggerutu.

Lalu makanan yang kami pesan sebelumnya pun datang dibawakan oleh seorang pelayan. Rasanya lumayan enak walau tak seenak masakan buatanku sendiri kataku tersenyum pada temanku, nyata saja dia meng-amin-inya juga. Hehe...maklum saja, diia salah satu penggemar berat masakanku sepertinya. Kamipun bercerita dan bercakap-cakap sambil terus menikmati makanan yang ada di piring kami masing-masing.

Seketika kulihat dari jauh, seorang anak perempuan kecil yang memakai kerudung merah jambu yang sudah kusam dengan baju kaus lengan pendek berwarna kuning dan celana panjang biru yang tentu saja juga kusam. Dia memegang sebuah gelas plastik bekas minuman sambil berlari-lari kecil kearah kami. Disebelah kirinya mengikut anak perempuan yang terlihat lebih kecil darinya, anak yang berambut pendek itu berlari mendekati air keran yang biasa digunakan para tamu menyuci tangan, tak jauh dari kami berdua. Dia tersenyum lalu bilang “Kak, minta seribu kak...”. Sesaat aku tertarik dan suka melihat wajahnya yang benar-benar cantik untuk ukuran seorang pengemis sepertinya. Kulitnya bersih walau baju yang dipakainya kusam, bahkan dia berbeda sekali dengan beberapa anak pengemis yang sebelumnya juga mendekati kami,begitupun dengan adik yang dia bawa, mereka terlihat berbeda.

Ada sesuatu yang menggelitik dihatiku, aku ingin bercakap-cakap sedikit dengannya.
Lalu kutanya,” Namanya siapa dek?”.
“Siapa kak? Saya? Siti kak”. Katanya mengetuk-ngetukkan pelan gelas pelastik yang ada di tanggannya itu ke lantai papan tempat lesehan kami.
“Kamu sekolah?”.
Dia hanya mengangguk sambil terus tersenyum
“Sekolah dimana?”.
“Di SD impres P.Bulan”.
“Mamanya mana? Gak kerja juga?”.
“ Ada di rumah. Kerja... nyuci-nggosok di rumah orang”.
“Ooh..kamu kesini sama siapa? Naik apa?”
“Naik angkot dari P. Bulan kak...”
“Kamu kesinian aja dek, masuk kedalam gak papa...” kataku menawarkan dia masuk ketempat lesehan kami.
“Nggak kak...gak dibolehin masuk...sini aja...”
Aku melirik pelayan toko yang memang dari tadi terlihat memantau dari jauh. Lalu kulanjutkan lagi bertanya pelan-pelan.
“Dek...Siti, kakak mau tanya... Hmm... kalian kalau udah sore ada bapak-bapak atau ibu-ibu yang nyuruh ngumpulin uang hasil kerjanya gak dek trus di kasi ke mereka uangnya?”
Dia lagi-lagi memamerkan senyumnya yang manis sambil memain-mainkan tiang lesehan itu dan menjawab pertanyaanku dengan polosnya.
“Nggak...”
“Terus, langsung di kasih ke siapa uangnya biasanya?”
“Ke mamak...”
Aku pun tersenyum dan memberikan beberapa lembar uang ribuan kepadanya, tangan-tangan kecilnya yang penuh debu-debu jalan menggapai lembaran-lembaran uang itu.
“Ini buat Siti..yang ini buat adeknya ya...”
Dia mengangguk dan menyimpan uang itu.
“Kamu yang rajin belajarnya ya Siti, jangan begini terus kerjanya... Kalau bisa nanti kalau ketemu kakak lagi Siti harus jadi dokter. Oke?” kataku mantap menatap matanya yang-aku tak tau bagaimana menggambarkannya tapi mata itu benar-benar polos- dia pun menggangguk dan berlari-lari khas anak kecil biasanya.

Percakapan itu berlangsung singkat dan ringan, tapi otakku ini seperti tidak bisa ditahan untuk bekerja berpikir mengenai ini dan itu. Ada saja pertanyaan-pertanyaan yang diam-diam kutanyakan dalam hati lalu ku jawab lalu kemudian kubantahkan sendiri pula dalam hati. Aku bertekad, ini harus kutulis! Kutulis!. Itulah cara mendamaikan pikiran dan hatiku akhirnya.

Mungkin banyak orang yang mengalami dan melakukan hal seperti yang aku lakukan dan aku yakin merekapun memikirkan hal yang sama. Dan merekapun tak tau harus berbuat apa kemudian, harus memulai darimana untuk menyelesaikannya, ah, tidak! Maksudku...menindak lanjutinya, Akh! Terlalu naif. Bagaimana kalau... turut prihatin terhadapnya. Mungkin saat ini cuma itu...walau belum tepat hanya sampai tahap itu. Yah...begitulah.

Aku kemudian berkata pada teman yang ada bersamaku tadi, “Seperti apapun dan bagaimanapun ‘Keadilan’ itu, aku jadi semakin tak percaya terhadap wujud kongkritnya... Yang miskin selalu menuntut keadilan agar bisa melanjutkan hidup mereka besok hari tanpa harus berpikir ‘besok makan apa? Dapat darimana? Kalau sakit gimana?’ begitu juga orang kaya selau ngeluhin kebebasan dan ketenangan. Dengan bilang ‘bosan aku dengan kegiatan yang padat setiap hari! Haduh... kalau mau tidur mobil dan motor harus masuk garasi dulu kalau gak bakalan dimalingin, ribet! Besok kesana pakai baju apa ya yang pantas biar matching sama acaranya? Hang out kemana lagi ya habis ini? Provider gak adil! Pulsa ditarik-tarik terus!’ dan lain sebagainya. Jadi pernah gak sih kepikiran ‘K-E-A-D-I-L-A-N’ tu buat siapa dan wujudnya apa?!!.”

Walaupun hanya dibalas senyuman tapi aku tau temankupun pasti sama bingungnya denganku. Yah...lagi-lagi aku harus berdialog dengan hatiku, dan lagi-lagi aku harus sadar bahwa ilmuku masih terlalu dangkal untuk mampu menafsir segalanya sendirian.

Siti...segelintir dari anak-anak jalanan yang kita remehkan tapi pasti punya mimpi yang mungkin lembaran kertaspun tak akan cukup untuk mengabadikannya. Mungkin pula dia ingin sekali teriak dan menangis, walau hanya mengenal kata seperti  “Aku ingin bermain seperti yang lain! Aku ingin belajar seperti yang lain! Aku ingin tidur siang seperti yang lain!” karena sepertiku, dia pun barangkali  jangankan mengerti apa itu ‘keadilan’ menyebutkannya saja dia pasti akan canggung mengingat usianya kalau boleh kuterka sekitar umur 6 tahun itu.

Aku memandangnya terus dan terus sampai langkah-langkah kecil Siti dan adiknya jauh meninggalkan kami dan menghilang di balik tembok restoran yang lain....

Aku tak sanggup menanyakan “tanggung jawab siapa mereka?” karena aku sudah tau jawaban diplomatisnya. Aku juga enggan memastikan “apa solusinya untuk menolong pendidikan dan kehidupan anak-anak dibawah umur seperti mereka?” karena akupun sudah tau jawaban klise yang akan diberikan.

Aku hanya bisa berkata kepada temanku itu “Bang, semiskin dan sesulit kehidupan seperti apapun ami nanti... Aku haramkan anakku untuk mengukur jalanan mencari pundi-pundi uang recehan untuk menghidupiku sedangkan aku dalam keadaan sehat tak melakukan apa-apa untuknya...”

Sore itu indah karena Tuhanku memberiku pandangan bagaimana kehidupan dibalik hidupku agar aku tetap bersyukur pada Zat yang menciptakanku....Fabi ayyi alaa irabbikumaa tukadzibaan.. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar